Komunikita
4 min read558

Bukan Sekadar Rupiah dan Renminbi: Shanghai Menunjukkan Indonesia Sedang Membangun Ketahanan Ekonomi Generasi Berikutnya

Kesepakatan antara Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai menandai langkah penting dalam strategi ekonomi Indonesia menghadapi dunia yang semakin tidak pasti. Melalui perluasan transaksi mata uang lokal, penguatan kerja sama keuangan, dan integrasi sistem pembayaran lintas negara, Indonesia sedang membangun instrumen baru untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Di tengah perubahan geopolitik dan transformasi ekonomi global, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada ketahanan jangka panjang.

O

OP Admin

Published in Komunikita

Loading...
Bukan Sekadar Rupiah dan Renminbi: Shanghai Menunjukkan Indonesia Sedang Membangun Ketahanan Ekonomi Generasi Berikutnya

Pelajaran Terbesar dari Krisis Adalah Ketergantungan

Setiap krisis ekonomi selalu meninggalkan satu pelajaran yang sama: negara yang terlalu bergantung pada satu sumber, satu pasar, atau satu instrumen akan lebih rentan menghadapi guncangan.

Krisis finansial Asia 1998 memperlihatkan bagaimana arus modal dan gejolak nilai tukar dapat mengguncang fondasi ekonomi dalam waktu singkat. Krisis keuangan global 2008 menunjukkan bagaimana gejolak di satu pusat keuangan dunia dapat menyebar ke seluruh negara. Pandemi COVID-19 memperlihatkan rapuhnya rantai pasok internasional. Sementara ketegangan geopolitik beberapa tahun terakhir mengingatkan dunia bahwa ekonomi dan politik global semakin sulit dipisahkan.

Dalam konteks tersebut, ketahanan ekonomi tidak lagi hanya diukur dari besarnya cadangan devisa atau tingginya pertumbuhan ekonomi.

Ketahanan ekonomi kini juga ditentukan oleh kemampuan suatu negara menciptakan alternatif, memperluas opsi, dan mengurangi ketergantungan terhadap satu jalur tertentu.

Inilah perspektif yang perlu digunakan untuk membaca kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) di Shanghai.


Shanghai dan Arsitektur Ekonomi Baru Indonesia

Pada pandangan pertama, pembaruan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA), perluasan Local Currency Transaction (LCT), pembentukan mekanisme kliring renminbi, dan penguatan sistem pembayaran lintas negara mungkin terlihat sebagai isu teknis yang hanya dipahami kalangan perbankan.

Padahal dampaknya jauh lebih strategis.

Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari pembangunan arsitektur ekonomi baru yang memberi Indonesia ruang gerak lebih luas dalam menghadapi dinamika global.

Selama ini sebagian besar perdagangan internasional Indonesia masih sangat bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara. Ketika eksportir Indonesia bertransaksi dengan perusahaan di Tiongkok, proses pembayaran umumnya tetap harus melewati dolar terlebih dahulu.

Konsekuensinya adalah biaya transaksi tambahan, risiko fluktuasi kurs yang lebih besar, dan ketergantungan pada likuiditas dolar global.

Melalui perluasan penggunaan rupiah dan renminbi secara langsung, sebagian risiko tersebut dapat dikurangi.

Yang dibangun bukan sekadar mekanisme pembayaran baru, melainkan instrumen ketahanan ekonomi.


Mengikuti Pusat Gravitasi Ekonomi Dunia yang Bergeser

Ada alasan kuat mengapa kerja sama ini dilakukan bersama Tiongkok.

Dalam dua dekade terakhir, Asia telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Data IMF menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pertumbuhan ekonomi global kini berasal dari kawasan Asia.

Tiongkok sendiri merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan yang mencapai lebih dari 154 miliar dolar AS pada 2025.

Artinya, sebagian besar aktivitas ekspor dan impor Indonesia berhubungan langsung dengan ekonomi Tiongkok.

Dalam logika ekonomi modern, semakin besar hubungan perdagangan dengan suatu negara, semakin penting pula menciptakan instrumen yang mendukung efisiensi transaksi dengan negara tersebut.

Karena itu, penggunaan mata uang lokal bukanlah keputusan politik, melainkan keputusan ekonomi yang rasional.

Negara-negara lain juga melakukan hal serupa.

India memperluas penggunaan rupee dalam perdagangan internasional.

Brasil dan Tiongkok membangun mekanisme pembayaran langsung.

ASEAN mempercepat integrasi pembayaran regional melalui skema mata uang lokal.

Indonesia sedang bergerak dalam arus perubahan yang sama.


Pemerintah dan BI Sedang Menyiapkan Fondasi Jangka Panjang

Yang menarik, kesepakatan di Shanghai terjadi pada saat pemerintah sedang menjalankan agenda besar penguatan ekonomi nasional.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, dan penguatan investasi sebagai prioritas utama pembangunan.

Jika dilihat secara utuh, kerja sama BI–PBOC sesungguhnya melengkapi agenda tersebut.

Pemerintah memperkuat sektor riil.

Bank Indonesia memperkuat fondasi keuangan.

Pemerintah membangun kapasitas produksi.

Bank Indonesia memperluas instrumen stabilisasi.

Pemerintah meningkatkan nilai tambah industri.

Bank Indonesia memperkuat efisiensi transaksi internasional.

Kombinasi ini menunjukkan adanya pendekatan yang semakin komprehensif dalam membangun ketahanan ekonomi nasional.


Dari Korporasi Besar hingga UMKM

Salah satu kekeliruan dalam melihat kebijakan moneter adalah menganggap manfaatnya hanya dirasakan pelaku usaha besar.

Padahal perluasan transaksi mata uang lokal dan sistem pembayaran lintas negara berpotensi memberikan dampak langsung kepada sektor usaha yang lebih luas.

Eksportir menengah dapat mengurangi biaya transaksi.

UMKM yang menjangkau pasar internasional memperoleh akses pembayaran yang lebih mudah.

Sektor pariwisata mendapatkan manfaat dari integrasi sistem pembayaran lintas negara.

Pelaku ekonomi digital memperoleh jalur transaksi yang semakin efisien.

Dengan kata lain, kebijakan yang lahir dari meja perundingan bank sentral dapat menghasilkan manfaat nyata bagi aktivitas ekonomi sehari-hari.


Ketahanan Tidak Dibangun Saat Krisis Terjadi

Salah satu kesalahan terbesar dalam pengelolaan ekonomi adalah membangun instrumen perlindungan setelah krisis datang.

Negara yang kuat justru membangun bantalan sebelum tekanan muncul.

Dalam konteks ini, pembaruan currency swap, perluasan transaksi mata uang lokal, dan integrasi sistem pembayaran harus dipahami sebagai investasi jangka panjang dalam ketahanan ekonomi nasional.

Mungkin tidak menghasilkan dampak spektakuler dalam satu malam.

Mungkin tidak langsung membuat rupiah kebal terhadap gejolak global.

Namun kebijakan semacam inilah yang perlahan memperkuat fondasi ekonomi sehingga lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.


Kesimpulan

Kesepakatan antara Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai menunjukkan bahwa Indonesia semakin matang dalam membaca perubahan lanskap ekonomi global. Langkah ini bukan tentang meninggalkan dolar AS, melainkan tentang memperluas opsi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, agenda pembangunan ekonomi nasional tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada penciptaan fondasi yang lebih kokoh untuk jangka panjang. Melalui sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia sedang membangun sistem ekonomi yang lebih adaptif, lebih fleksibel, dan lebih siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, kekuatan ekonomi sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pertumbuhannya hari ini, tetapi juga oleh seberapa siap ia menghadapi tantangan esok hari. Dan dari Shanghai, Indonesia menunjukkan bahwa persiapan itu sedang dilakukan, langkah demi langkah, dengan arah yang semakin jelas.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles