
Data tersebut disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat peluncuran Program Magang Nasional Angkatan II. Menurutnya, dari 100.000 fresh graduate yang mengikuti program pada tahun 2025, sekitar 30.000 orang langsung memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan masa magang. Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa pengalaman kerja yang diperoleh peserta mampu meningkatkan daya saing mereka di pasar tenaga kerja. (news.detik.com)
Menjadi Solusi Kesenjangan Kompetensi Lulusan
Selama beberapa tahun terakhir, dunia usaha dan dunia industri menghadapi tantangan berupa ketidaksesuaian kompetensi (skills mismatch) antara lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan lapangan kerja.
Banyak perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pengalaman praktis, kemampuan beradaptasi, komunikasi yang baik, serta pemahaman terhadap budaya kerja profesional.
Program Magang Nasional hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan memberikan kesempatan kepada lulusan baru belajar sekaligus bekerja langsung di perusahaan mitra.
Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh pengalaman nyata yang selama ini menjadi salah satu syarat utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja.
Peserta yang Belum Direkrut Tetap Memiliki Peluang Lebih Besar
Pemerintah menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari peserta yang langsung diterima bekerja.
Sebanyak 70 persen peserta lainnya juga memperoleh manfaat besar karena telah memiliki pengalaman profesional yang dapat menjadi nilai tambah ketika melamar pekerjaan.
Pengalaman bekerja di perusahaan, rekomendasi dari mentor, serta pemahaman terhadap proses bisnis industri dinilai meningkatkan peluang mereka untuk direkrut dibandingkan lulusan yang belum pernah mengikuti program serupa.
Pemerintah Tambah Kuota Menjadi 150 Ribu Peserta
Melihat hasil positif angkatan pertama, pemerintah memutuskan memperluas Program Magang Nasional pada tahun 2026.
Jumlah peserta ditingkatkan menjadi 150.000 fresh graduate, meningkat 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penambahan kuota tersebut diharapkan membuka kesempatan yang lebih luas bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja sebelum memasuki dunia profesional secara penuh.
Pemerintah juga memperluas kerja sama dengan lebih banyak perusahaan sehingga pilihan bidang magang menjadi semakin beragam.
Dibimbing Mentor Profesional
Selama mengikuti program, peserta tidak hanya menjalankan pekerjaan sehari-hari, tetapi juga mendapatkan pendampingan langsung dari mentor profesional di perusahaan.
Mentor berperan membimbing peserta dalam memahami proses kerja, meningkatkan keterampilan teknis, membangun etika profesional, hingga mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
Model pembelajaran berbasis praktik tersebut diharapkan menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan industri.
Program Dibuka untuk Penyandang Disabilitas
Pada pelaksanaan Angkatan II, pemerintah juga memperkuat aspek inklusivitas.
Program Magang Nasional akan memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk mengikuti proses seleksi dan memperoleh pengalaman kerja sesuai kompetensi yang dimiliki.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses terhadap kesempatan kerja yang setara sekaligus mendorong perusahaan membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif.
Peserta Mendapat Upah Selama Magang
Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta juga menerima upah selama mengikuti program.
Besaran upah mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di daerah tempat peserta menjalani magang. Nominal yang diterima bervariasi sesuai lokasi penempatan, dengan kisaran sekitar Rp3,5 juta hingga Rp6 juta per bulan.
Skema tersebut memberikan dukungan finansial kepada peserta sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kontribusi mereka selama menjalankan aktivitas di perusahaan.
Investasi SDM untuk Masa Depan
Program Magang Nasional menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, lulusan baru memperoleh kesempatan membangun pengalaman kerja sebelum memasuki pasar tenaga kerja secara permanen.
Keberhasilan 30 persen peserta angkatan pertama langsung memperoleh pekerjaan, peningkatan kuota menjadi 150.000 peserta, pendampingan oleh mentor profesional, pemberian upah sesuai ketentuan, serta perluasan akses bagi penyandang disabilitas menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri, sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.












