
JAKARTA — Penanganan titik api yang membakar kawasan lahan gambut di Kalimantan kini mendapat sokongan taktis dari negara tetangga. Indonesia menyambut baik dan menyetujui tawaran bantuan darurat dari Pemerintah Malaysia untuk mengakselerasi pemadaman karhutla serta menekan dampak sebaran kabut asap kawasan perbatasan.
Kepastian tersebut disampaikan langsung Presiden RI Prabowo Subianto usai menerima kunjungan bilateral Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Mobilisasi Armada Udara dan Tim Terlatih
Bantuan operasional dari Malaysia dirancang khusus untuk memperkuat daya jangkau pengeboman air (water bombing) di zona-zona kritis yang terisolasi dari akses darat:
Kekuatan Armada Udara: Pengerahan 1 unit pesawat pemadam (termasuk tipe Bombardier CL-415MP) serta 3 unit helikopter pemadam kebakaran.
Pasukan Spesialis: Sebanyak 52 personel pemadam kebakaran hutan berpengalaman yang siap beroperasi di medan ekstrem.
Komando Terpadu Satgas: Seluruh aset asing akan langsung diintegrasikan di bawah kendali Satgas Karhutla nasional bersama BNPB, TNI, dan Polri.
Sinergi Lingkungan dan Persaudaraan Serumpun
Presiden Prabowo mengapresiasi tinggi solidaritas yang ditunjukkan Pemerintah Malaysia. Presiden menegaskan bahwa isu krisis iklim dan karhutla merupakan tanggung jawab ekologis bersama yang dampaknya dirasakan hingga masyarakat di negara tetangga, sehingga penanganannya membutuhkan prinsip gotong royong.
"Kebakaran hutan ini adalah masalah lingkungan hidup yang mempengaruhi banyak pihak. Dampaknya dirasakan oleh tetangga-tetangga kita. Ketika mereka ingin membantu memadamkannya bersama, kita sambut dan terima dengan sangat baik," tegas Presiden Prabowo.
Selain Malaysia, Indonesia juga telah menerima dukungan teknis serta bantuan peralatan dari negara sahabat lainnya seperti Jepang.
Pengawasan Ketat dan Langkah Preventif
Di samping mengoptimalkan operasi pemadaman dari udara (water bombing), Pemerintah Indonesia terus memperketat pengawasan di jalur darat. Langkah strategis meliputi pembasahan kembali lahan gambut (rewetting), pemantauan titik panas (hotspot) secara real-time, hingga tindakan hukum yang tegas bagi korporasi atau individu yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara ilegal.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menekan penyebaran titik api secara signifikan, memulihkan kualitas udara, dan menjaga stabilitas lingkungan hidup di wilayah perbatasan.









